♟️ Doa Penarik Rezeki Syekh Abul Hasan Asy Syadzili
DoaPendek Pembuka Rezeki sesuai Sunnah. Berikut ini doa pendek pembuka pintu rezeki sesuai sunah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dikutip dari Kumpulan Doa Sehari-hari (2013) yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag) RI. Artinya: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya
Dzikirdan Hizib Tarekat Syadziliyah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Penganut Tarekat Syadziliyah kental dengan suasana dzikir dan hizib dalam tata cara ritual peribadatnnya. Ia tidak jauh dari ciri khas Tasawuf Aswaja. Yang menarik dari Tarekat Syadziliyah adalah, kandungan makna hakiki dari Hizib hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf atau Tarekat Syadziliyah.
66 HIZIB NASHR, Amalan Wirid Abu Hasan Asy-Syadzili (KSA - 4) * MANAQIB (Biografi Singkat) Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabar yang banyak dikenal orang dengan nama al Syazili, beliau dilahirkan di Ghammarah Moroko pada tahun 593 H. Sebutan Al Syazili bagi bagi dirinya karena
WaktuGanjil Lailatul Qadar Versi Abu Hasan Asy Syadzili Rep: Ali Yusuf / Red: Muhammad Hafil Ali Yusuf / Red: Muhammad Hafil
SyekhAbul Hasan Asy Syadzili, adalah seorang pendiri tarekat Syadziliyyah.Beliau lahir di desa Ghamarah, Maroko, pada tahun 593 H.Nama kecil beliau adalah A
Ketikamencari rezeki, selain ikhtiyar lahiriah, sebaiknya juga dibarengi dengan ikhtiyar batin, mengamalkan wirid-wirid yang sudah diajarkan para kekasih Allah. Salah satunya adalah wirid dari Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, seorang wali Quthub pendiri Thariqah Syadziliyah.
MasyaAllah!! Karomah Syekh Abul Hasan Asy Syadzily - Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadziliy r.a. adalah seorang yang dianugerahi karomah yang san
TarekatSyadziliyah Tarekat Syadziliyah adalah tarekat yang dipelopori oleh Syekh Abul Hasan Asy Syadzili [w. 1258]. Ia adalah keturunan langsung dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a dan Fatimah al-Zahra binti Rasulullah SAW.11 Syadzili sendiri tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan
AbulHasan Asy-Syazili adalah seorang tokoh sufi yang sudah termasyhur. Hizb An-Nashr yang merupakan kumpulan doa-doa untuk meraih kemenangan dalam menghadapi musuh-musuh Islam sering dibaca dalam kumpulan wirid-wirid Dala'il Al-Khairat. Karangannya As-Sirrul Jalil fi Khawash Hasbunnal wa Ni'mal Wakil (rahasia yang agung dalam keistimewaan Hasbiyallahu wa ni'mal wakil) telah menampilkan
a77Gy. Imam Abu Hasan asy-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyyah adalah seorang wali agung yang namanya selalu dikaitkan dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki derajat kewalian yang sama, sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Qarasyi قال القرشي إذا ذكرت سيدي أبا الحسن الشاذلي ذكرت فقد ذكرت سيدي عبد القادر الجيلاني وإذا ذكرت سيدي عبد القادر الجيلاني فقد ذكرت سيدي أبا الحسن الشاذلي لتوحد المقام فيهما ولأن سرهما واحد وهما لا يفترقان Al-Qarasyi mengatakan, “Ketika aku menyebut tuanku Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, maka aku telah menyebut tuanku Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Dan ketika aku menyebut tuanku Syekh Abdu Qadir al-Jailani, maka aku telah menyebut tuanku Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, karena keduanya memiliki dejarat yang sama, dan sirr rahasia Allah di dalam keduanya juga sama, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.” Pada tahun 593 H, lahirlah seorang keturunan Rasulullah ﷺ di desa Ghumarah, sebuah perkampungan dekat dengan kota Ceuta di negara Maroko. Orang tuanya memberikan ia nama Ali, kelak ia akan lebih dikenal dengan julukan Abu Hasan asy-Syadzili. Ali tumbuh dalam lingkungan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Abdulah bin Abdul Jabbar. Para ahli sejarah sepakat bahwa beliau adalah keturunan dari Sayyidina Hasan, cucu Rasulullah ﷺ. Menurut Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Lathaif al-Minan, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili adalah Isa bin Muhammad bin Sayyidina Hasan. Sedangkan menurut Ibnu Iyadh dalam kitab al-Mafakhir al-Ulya fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili adalah Isa bin Idris bin Umar bin Idris bin Abdullah bin al-Hasan al-Mutsanna bin Sayyidina Hasan. Imam Abu Hasan asy-Syadzili memiliki postur tubuh yang kurus, jari-jemari yang panjang, warna kulit yang sangat fasih berbicara, ucapannya sangat lembut. Selain itu, ia selalu memakai pakaian yang indah dan menunggangi hewan tunggangan yang gagah. Terkadang Ia juga tak segan untuk memakai pakaian sederhana, akan tetapi beliau tidak memakai pakaian yang ditambal sebagaimana beberapa kaum sufi lainnya. Perjalanan Keilmuan Awalnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili mengambil sanad ilmu tasawuf kepada Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Harazim w. 633 H di negara Maroko. Dari guru pertamanya inilah, Imam Abu Hasan asy-Syadzili mendapatkan pengesahan sebagai pengikut ajaran tasawuf. Kemudian, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berkelana ke negara Tunisia. Di negara Tunisia inilah, ia melanjutkan berguru kepada Syekh Abu Sa’id Khalaf bin Yahya at-Tamimi al-Baji w. 628 H. Kedua guru agung Imam Abu Hasan asy-Syadzili ini adalah dua murid kesayangan Syekh Abu Madyan al-Maghrabi. Selanjutnya, pada tahun 618 H Imam Abu Hasan asy-Syadzili berguru kepada Abu al-Fath Najmuddin Muhammad al-Wasithi w. 632 H, seorang murid dari Syekh Ahmad ar-Rifa’i. Diakhir pertemuan guru dan murid inilah, Syekh Abu al-Fath Najmuddin Muhammad al-Wasithi berpesan “Engkau mencari seorang wali quthb di negara Iraq, padahal wali quthb tersebut menetap di negaramu di Maroko, kembalilah ke negara asalmu niscaya engkau akan bertemu dengan wali quthb di sana”. Atas pesan gurunya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili pun bertandang ke negara asalnya untuk mencari sang wali quthb. Imam Abu Hasan asy-Syadzili menceritakan pengalaman spiritualnya berguru kepada sang wali quthb yang bernama Syekh Abdus Salam bin Masyisy sebagaimana yang dicatat oleh Ibnu Iyadh dalam kitab al-Mafakir al-Aliyyah fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah, “Aku bertemu dengannya ketika ia menetap di pucuk gunung. Ketika aku melihatnya aku pun bergegas untuk mandi seraya berniat dalam hati bahwa aku adalah seorang yang tak memiiki ilmu sedikit pun agar ia mau mengajarkan ilmu tasawuf kepadaku. Ketika aku mendatanginya ia berkata, Selamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar’. Kemudian, ia menyebutkan silsilah nasabku hingga Rasulullah ﷺ seraya berkata, Wahai Ali, engkau datang kepadaku dengan hati yang butuh terhadap ilmu dan amal, maka engkau berhak untuk mendapatkan dariku ilmu dunia dan akhirat.’ Aku terkejut dengan apa yang aku alami, aku pun berguru kepadanya selama beberapa hari hingga aku sampai pada derajat futuh terbuka mata hati. Selama aku berguru kepadanya, aku menemukan banyak keramat dan khariqul adat yang keluar darinya”. “Suatu ketika aku duduk bersamanya dan ketika itu ada seorang anak kecil yang duduk di sisi Syekh Abdus Salam bin Masyisy. Terbesit dalam benakku untuk menanyakan kepadanya tentang Asma’ Allah al-Mu’adzam. Anak kecil itu pun berkata, Wahai Abu Hasan, engkau ingin bertanya kepada Syekh tentang Asma’ Allah al-Mu’adzam, sungguh di dalam hatimu telah terdapat sirr rahasia dari Asma’ Allah al-Mu’adzam. Kemudian, Syekh Abdus Salam bin Masyisy tersenyum seraya mengatakan, Itulah jawaban yang engkau dapatkan.’ Syekh Abdus Salam bin Masyisy berkata, Wahai Ali, berjalanlah menyusuriluasnya benua Afrika, kemudian menetaplah di sebuah desa bernama Syadzilah, niscaya kelak Allah akan memberikanmu gelar asy-Syadzili’.” Fitnah dari Abu Qasim bin Barra’ Dalam perjalanannya berdakwah, tak jarang Imam Abu Hasan asy-Syadzili menemukan banyak rintangan. Di antara rintangan terberatnya adalah fitnah dari Abu Qasim bin Barra’. Awalnya, ia memulai berdakwah di ibu kota negara Tunisia dengan menetap di sebuah rumah di dekat masjid al-Bilath. Ia banyak berkumpul dengan ulama besar Tunisia seperti Abu Hasan Ali bin Makhluf as-Shaqli, Abu Abdullah as-Shabuni, dan sesamanya. Dalam waktu yang singkat, berbondong-bondonglah para ulama untuk belajar kepada Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Hingga kabar ketenaran Imam Abu Hasan asy-Syadzili menimbulkan kedengkian di hati Abu Qasim bin Barra’ yang saat itu menjabat sebagai pakar ahli fiqih kenaman di negara Tunisia. Abu Qasim bin Barra’ pun mengadu kepada Sultan Abu Zakaria, “Sungguh di daerah kita ada seseorang dari desa Syadzilah yang mengaku keturunan Rasulullah ﷺ dan ia diikuti oleh banyak orang, ia akan mengacaukan negaramu.” Abu Qasim bin Barra’ lalu mengumpulkan seluruh ulama ahli fiqih untuk berdebat dengan Imam Abu Hasan asy-Syadzili sedangkan di waktu yang sama Sultan Abu Zakaria mengawasi dari balik tirai. Perdebatan pun dimulai, seluruh ulama ahli fiqih yang hadir terdiam membisu setelah mendengarkan seluruh pertanyaan mereka dijelaskan dengan mudah oleh Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Maka kedengkian semakin membara, beberapa oknum yang dengki saat itu mengusulkan untuk mengusir Imam Abu Hasan asy-Syadzili dari negara Tunisia. Hingga beberapa waktu kemudian tersiar kabar bahwa selir sang sultan wafat akibat sebuah penyakit. Maka, sang sultan beserta seluruh pelayannya bergegas untuk memakamkannya. Ketika mereka sedang sibuk dengan urusan pemakaman, tak disangka kebakaran terjadi di rumah sang sultan. Hingga, api berhasil melahap banyak harta dan barang berharga di rumah sang sultan. Melihat hal tersebut, sang sultan pun merasa bahwa ini semua terjadi akibat perbuatan buruknya kepada Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Sultan Abu Zakaria pun bergegas meminta maaf dan mencium tangan Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Setelah kejadian tersebut, Imam Abu Hasan asy-Syadzili memilih untuk berpindah ke negara Mesir. Sedangkan kelak Abu Qasim bin Barra’ pada akhir hayatnya ditimpa musibah berupa sia-sia seluruh ilmunya, durhaka anak-anaknya dan merasakan kezaliman di masa senjanya. Ini semua terjadi karena ia telah memusuhi Imam Abu Hasan asy-Syadzili yang juga seorang kekasih Allah semasa hidupnya. Kedekatannya dengan Syekh Izzudin bin Abdissalam Kedatangan Imam Abu Hasan asy-Syadzili di kota Alexandria telah menjadi lentera ilmu yang tak kunjung padam. Duduk bersimpuh di majelis ilmunya beberapa ulama besar di zamannya, di antaranya adalah Syekh Izzudin bin Abdissalam, Syekh Taqiyuddin bin Daqiq al-Aid dan sesamanya. Di antara kisah menarik dari Imam Abu Hasan asy-Syadzili dengan Syekh Izzudin bin Abdissalam adalah suatu ketika Imam Abu Hasan asy-Syadzili menghendaki untuk berangkat haji bersama pengikutnya. Sedangkan waktu itu sedang terjadi penyerangan bangsa Tartar di Timur Tengah. Oleh karena itu, Syekh Izzudin bin Abdissalam memfatwakan untuk menunda keberangkatan haji. Imam Abu Hasan asy-Syadzili mendatangi Syekh Izzudin bin Abdissalam, “Wahai Syekh, seandainya dunia dijadikan hanya sejengkal tanah dan diberikan kepada seseorang, apakah boleh ia bepergian ke tempat yang dikhawatirkan?” Maka Syekh Izzudin bin Abdissalam menjawab, “Barang siapa yang diberikan anugerah demikian maka ia terbebas dari fatwa larangan berhaji”. “Sungguh aku bersama Allah, dzat yang tiada tuhan selain Dia. Dan Dia telah menjadikan dunia sebagai sejengkal tanah, ketika aku melihat hal yang berbahaya bagi seseorang aku akan menolongnya dan memberinya rasa aman, dan wajib adanya maqam sederajat di antara kita dihadapan Allah agar engkau memahami apa yang aku maksudkan” ujar Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Kemudian, para pengikutnya pun berbondong-bondong untuk berhaji bersama Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Akhir hayat Imam Abu Hasan asy-Syadzili Sejak kedatangannya di negara Mesir, Imam Abu Hasan asy-Syadzili telah mendapatkan isyarat mengenai tempat wafatnya. Suatu ketika ia bermunajat, “Duhai tuhanku, engkau telah menempatkanku di negara bangsa Koptik, semoga engkau wafatkan aku di antara mereka, sehingga dagingku bercampur dengan daging mereka serta tulangku berkumpul dengan tulang mereka”. Kemudian terdengarlah sebuah suara, “Wahai Ali, sungguh kelak engkau akan diwafatkan di tempat yang tidak pernah dipakai untuk bermaksiat kepada Allah”. Di akhir hayatnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berangkat untuk menunaikan haji. Akan tetapi di tengah perjalanan ia mengalami sakit parah. Sebelum wafatnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berwasiat untuk istiqamah membaca Hizb Bahr, “Jagalah Hizb Bahr untuk anak-anak kalian, sungguh di dalamnya terdapat Asma’ al-Mu’adzam”. Sebelum wafatnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili menyuruh muridnya untuk mengambilkan air di sumur terdekat. Akan tetapi, muridnya mengatakan, “Wahai tuanku, air di daerah ini asin sedangkan air yang kita bawa terasa segar”. “Bawakan air sumur kepadaku, sungguh apa yang aku inginkan berbeda dengan yang kalian persangkakan” jawab Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Maka, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berkumur dengan air sumur tersebut dan ia mendoakan air bekas berkumurnya. Kemudian, air bekas berkumur beliau dimasukkan kedalam sumur terdekat. Dengan izin Allah, air sumur tersebut berubah menjadi segar dan melimpah. Imam Abu Hasan asy-Syadili wafat pada tahun 656 H di sebuah gurun pasir bernama Humaitsarah yang berada di antara daerah Luxor dan Qina. Penerus tarekat Syadziliyyah setelah beliau adalah Abu Abbas al-Mursi. Dalam tarekat yang beliau dirikan, Imam Abu Hasan asy-Syadzili memberikan lima dasar yang harus diikuti oleh pengikut tarekat Syadziliyyah,yaitu Bertakwa kepada Allah baik di dalam keadaan samar ataupun terang-terangan Mengikuti jejak baginda Nabi Muhammad ﷺ baik dalam perkataan maupun perbuatan Tidak bertumpu kepada manusia baik di depan mereka maupun di hadapan mereka Ridho dengan pemberian Allah baik sedikit maupun banyak Kembali kepada Allah baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah. Muhammad Tholhah al Fayyadl Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Sumber Refrensi Kitab Lathaif al-Minan karya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari Kitab Durratul Asrar wa Tuhfah al-Abrar karya Syekh Muhammad al-Qasim ibnu Shabagh Kitab al-Lathifah al-Mardhiyyah karya Syekh Dawud bin Bakhila Kitab al-Mafakhir al-Aliyyah fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah karya Syekh Ibnu Iyadh asy-Syafi’i
Dzikir dan Hizib Tarekat Syadziliyah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Penganut Tarekat Syadziliyah kental dengan suasana dzikir dan hizib dalam tata cara ritual peribadatnnya. Ia tidak jauh dari ciri khas Tasawuf menarik dari Tarekat Syadziliyah adalah, kandungan makna hakiki dari Hizib hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf atau Tarekat Syadziliyah. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin sufistik yang sangat dzikir yang merupakan suatu hal yang mutlak dalam tarekat, secara umum pada pola dzikir tarekat ini biasanya bermula dengan Fatihat adz-dzikir. Para peserta duduk dalam lingkaran, atau kalau bukan, dalam dua baris yang saling berhadapan, dan syekh di pusat lingkaran atau diujung mengenai dzikir dengan al-asma al-husna dalam tarekat ini, kebijasanaan dari seorang pembimbing khusus mutlak diperlukan untuk mengajari dan menuntun murid. Sebab penerapan asma Allah yang keliru dianggap akan memberi akibat yang berbahaya, secara rohani dan mental, baik bagi si pemakai maupun terhadap orang-orang di contoh penggunaan Asma Allah diberikan oleh Ibn Atha’ilah berikut “Asma al-Latif,” Yang Halus harus digunakan oleh seorang sufi dalam penyendirian bila seseorang berusaha mempertahankan keadaan spiritualnya; Al-Wadud, Kekasih yang Dicintai membuat sang sufi dicintai oleh semua makhluk, dan bila dilafalkan terus menerus dalam kesendirian, maka keakraban dan cinta Ilahi akan semakin berkobar; dan Asma al-Faiq, “Yang Mengalahkan” sebaiknya jangan dipakai oleh para pemula, tetapi hanya oleh orang yang arif yang telah mencapai tingkatan yang Syadziliyah terutama menarik dikalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat, dan pengawai negeri. Mungkin karena kekhasan yang tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tarekat-tarekat yang lainnya. Setiap anggota tareqat ini wajib mewujudkan semangat tarekat didalam kehidupan dan lingkungannya sendiri, dan mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat Syadziliyah ini adalah kerapian mereka dalam berpakaian. Kekhasan lainnya yang menonjol dari tarekat ini adalah “ketenangan” yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya, misalnya asy-Syadzili, Ibn Atha’illah, Schimmel menyebutkan bahwa hal ini dapat dimengerti bila dilihat dari sumber yang diacu oleh para anggota tareqat ini. Kitab ar-Ri’ayah karya al-Muhasibi. Kitab ini berisi tentang telaah psikologis mendalam mengenai Islam di masa awal. Acuan lainnya adalah Qut al-Qulub karya al-Makki dan Ihya Ulumuddin karya “ketenangan” ini tentu saja tidak menarik bagi kalangan muda dan kaum penyair yang membutuhkan cara-cara yang lebih menggugah untuk berjalan di atas Jalan Yang Benar. Baca Syarat Mempelajari TarekatDisamping Ar-Risalahnya Abul Qasim Al-Qusyairy serta Khatamul Auliya’nya, Hakim at-Tirmidzi. Ciri khas lain yang dimiliki oleh para pengikut tarekat ini adalah keyakinan mereka bahwa seorang Syadzilliyah pasti ditakdirkan menjadi anggota tarekat ini sudah sejak di alam Azali dan mereka percaya bahwa Wali Qutb akan senantiasa muncul menjadi pengikut tarekat berbeda dengan tradisi di Timur Tengah, Martin menyebutkan bahwa pengamalan tarekat ini di Indonesia dalam banyak kasus lebih bersifat individual, dan pengikutnya relatif jarang, kalau memang pernah, bertemu dengan yang lain. Dalam praktiknya, kebanyakan para anggotanya hanya membaca secara individual rangkaian-rangkaian doa yang panjang hizb, dan diyakini mempunyai kegunaan-kegunaan juga Tasawuf Aswaja Ahlussunnah Wal Jamaah, Tinjauan SekilasMuqoddimah Qonun Asasi Hadrotussyekh Hasyim Asy’ariHizib al-Bahr, Hizib Nashor, Hizib al-HafidzahMasih tentang Dzikir hizib Tarekat Syadziliyah. Para pengamal Tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili ini mempelajari berbagai hizib, paling tidak idealnya, melalui pengajaran talkin yang diberikan oleh seorang guru yang berwewenang dan dapat memelihara hubungan tertentu dengan guru tersebut, walaupun sama sekali hampir tidak merasakan dirinya sebagai seorang anggota dari sebuah al-Bahr, Hizb Nashor, disamping Hizib al-Hafidzah, merupaka salah satu Hizib yang sangat terkenal dari as-Syadzilli. Hizib ini dikomunikasikan kepadanya oleh Nabi SAW. Sendiri. Hizib ini dinilai mempunyai kekuatan adikodrati, yang terutama digunakan untuk melindungi selama dalam Batutah menggunakan doa-doa tersebut selama perjalanan-perjalanan panjangnya, dan berhasil. Dan di Indonesia, di mana doa ini diamalkan secara luas, secara umum dipercaya bahwa kegunaan magis doa ini hanya dapat “dibeli” dengan berpuasa atau pengekangan diri yang lainnya dibawah bimbingan dalam Tareqat Syadzilliyah, di Indonesia, juga dipergunakan oleh anggota tarekat lain untuk memohon perlindungan tambahan Istighotsah, dan berbagai kekuatan hikmah, seperti debus di Pandeglang, yang dikaitkan dengan tareqat Rifa’iyah, dan di Banten utara yang dihubungkan dengan tarekat ahli mengatakan bahwa hizib, bukanlah doa yang sederhana, ia secara kebaktian tidak begitu mendalam; ia lebih merupakan mantera magis yang Nama-nama Allah Yang Agung Ism Allah A’zhim dan, apabila dilantunkan secara benar, akan mengalirkan berkan dan menjamin respon supra pemakaian hizib, wirid, dan doa, para syekh tarekat biasnya tidak keberatan bila doa-doa, hizib-hizib Azhab, dan wirid-wirid dalam tareqat dipelajari oleh setiap muslim untuk tujuan personalnya. Akan tetapi mereka tidak menyetujui murid-murid mereka mengamalkannya tanpa wewenang, sebab murid tersebut sedang mengikuti suaru pelatihan dari sang Syadziliyah ini mempunyai pengaruh yang besar di dunia Islam. Sekarang Tarekat Syadziliyah ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya, dan Tanzania Tengah, Sri langka, Indonesia dan beberapa tempat yang lainnya termasuk di Amerika Barat dan Amerika Mesir yang merupakan awal mula penyebaran Tarekat Syadziliyah ini yang mempunyai beberapa cabang, yakitu al-Qasimiyyah, al- madaniyyah, al-Idrisiyyah, as-Salamiyyah, al-handusiyyah, al-Qauqajiyyah, al-Faidiyyah, al-Jauhariyyah, al-Wafaiyyah, al-Azmiyyah, al-Hamidiyyah, al-Faisiyyah dan al- menarik dari Tasawuf Asy-Syadzily, justru kandungan makna hakiki dari Hizib-hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf Aswaja termasuk Tarekat Syadziliyah pimpinan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin sufistik yang sangat dahsyat.
DOA PENARIK REZEKI Kiriman Ki Jatiraga Ini doa untuk memperlancar rezeki datang kepada kita. Dibaca setelah membaca Surat Waqi’ah. Doanya sebagai berikut “BISMILLAHIRROHMANIRROHIM, ALLAAHUMMA INNII AS ALUKA BIHAQQI SUU RATIL WAAQIATI WA ASRAARIHAAN TU YASSIRA LIL RIZQII KAMAAYASSARTAHU LIKATSIIRIM MIN KHALQIKA YA ALLAAHU YA RABBALALAMIN. BISMILLAHIRROHMANIRROHIM ALLAHUMA MARZUQNAA RIZQAN MINASSAMAAI WAL ARDLI WARZUQNAA WA ANTA KHAIRURRAZIQIINA. ALLAHUMMA IN KANA RIZQUNAA FISS MAA’I FA ANZIHU WA IN KAANA RIZQUNAA FI L ARDLI FA AKHRIJHU WAIN KAANA RIZQUNAA MA’DUUMAN FAJIDHU WA INKAANA RIZQUNAA’ASHIIRAN FAYASSIRHU LANAA WALATAN QULNA HAITSU MAA KAANA BIFADLIKA WA JUUDIKA WAKARAMIKA BIRAHMATIKA YAA ARHAMARRAAHIMIINA” Wongalus,2010
doa penarik rezeki syekh abul hasan asy syadzili